
“Selamat tahun baru”; dari waktu yang lama menuju ke waktu yang baru, dari menatap ke belakang menuju menatap ke depan, dari sebuah kepasrahan menuju penantian harapan, dari kebelengguan menuju ke pencerahan, dari kekakuan menuju ke pembaharuan. Itulah masa dimana penantian berada di dalam pengharapan akan sukacita dalam pergeseran “Selamat tahun baru”; dari waktu yang lama menuju ke waktu yang baru, dari menatap ke belakang menuju menatap ke depan, dari sebuah kepasrahan menuju penantian harapan, dari kebelengguan menuju ke pencerahan, dari kekakuan menuju ke pembaharuan. Itulah masa dimana penantian berada di dalam pengharapan akan sukacita dalam pergeseran
Tahun 2007 adalah waktu lama, dan tahun 2008 adalah waktu yang baru. Pergantian waktu disambut dengan suka cita, dan suka cita selalu hadir seturut harapan itu. Traumatisasi akan dirajut untuk melahirkan detraumatisasi. Babak baru telah muncul dalam sikap optimistis. Menghadapi waktu yang baru untuk menghilangkan segala perkara. Optimistis dijunjung tinggi dengan alasan segenap pengalaman. Itulah suka cita dalam menyambut tahun 2008 yang lagi-lagi seturut dengan sebuah pengharapan.
Dalam pengharapan ada perjumpaan signifikan antara diri dengan waktu. Bukan waktu yang dipentingkan, melainkan proses pemwaktuan tersebut. “Waktu adalah bentuk kesadaran dalam pengalaman,” begitulah kata Kant menyoal keterkaitan keduanya. Itulah keberadaan diri di dalam waktu, yang kemudian selalu disandingkan bersama; yang dinamakan sebagai ruang. Penyandingan bukan berarti asal muasal, karena yang asal selalu berada di dalam pemwaktuan dan pengruangan. Kedua inilah, pengwaktuan dan pengruangan, yang juga dinamakan realitas. Dalam pemwaktuan, maka diri dan waktu hadir. Diri terlibat langsung dalam rentangan waktu. Dengan demikian realitas adalah sebuah kesimpulan di dalam pengwaktuan dan pengruangan, dalam hal ini relasi di jalin dalam ruang dan waktu. Relasi antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan adalah wujudnya selama pengalaman diri menjadi pusat pemahaman akan pengwaktuan dan pengruangan.
Tanpa diri maka waktu tak terbahasakan dan tak bernilai, karena diri adalah juga segala sesuatu dan apapun yang ada di bawah langit, demikian gambaran dari sang bijak yang bernama Qohelet (pengkotbah).
Penantian panjang akan tahun 2008 adalah juga pemwaktuan. Penantian dengan rasa suka cita adalah bentuk rasa syukur terhadap pemwaktuan itu, walaupun waktu yang lama masih meninggalkan perkaranya sendiri; dengan syarat pengharapan diusung untuk memperbaiki segala perkara lampau kepada kehidupan yang lebih baik. Begitu seterusnya. Alangkah baiknya jika semua manusia berpemahaman demikian: bersama-sama meninggalkan perkaranya tanpa sebuah jejak, walaupun Qohelet selalu mengingatkan akan segala sesuatu yang memiliki waktunya, termasuk dalam perkara-perkara tersebut.
Kritik terhadap Euforia
Sifat pesimis adalah ciri khas dari Qohelet, begitu ahli kitab sering menggambarkannya. Namun sifat tersebut dapat menjadi tegangan untuk melahirkan sebuah sikap yang baru, yakni dari sebuah anti tesis yang bernama euforia. Segalanya tentang euforia adalah segalanya tentang keberlebihan. Kenikmatan dianggap menjadi timpang dengan dalih sikap keambisiusan. Masa penantian dengan pengharapan bukan lagi dicerna dengan hikmat. Kenyataan dalam pemwaktuan dan pengruangan dirajut dengan pengharapan yang termateri. Baginya, Qohelet, semua ini hanyalah usaha menjaring angin.
Menyelami hidup dalam waktu akan membawa perenungan di dalam materi. Perenungan yang merupakan persentuhan antara manusia dengan jagad raya. Pemwaktuan dengan euforia tidak akan membawa kepada kehidupan yang lebih baik. Euforia akan membawa segalanya termateri. Semuanya bersandar akan segala realitas yang terperikan.
Penantian panjang akan waktu yang baru menjadi larut dengan sebuah euforia. Sikap optimis harus dibayar mahal dengan sebuah kenafsuan. Inilah musuh hikmat dari Qohelet yang hanya terus mencari waktu dalam paradigma materi.
Penantian dalam harapan
Tahun 2007 telah berlalu. Tahun 2008 datang dengan tampilan baru. Selama euforia itu tidak mencemarkannya, penantian di dalam harapan pun tidak akan sia-sia. Pemwaktuan dapat diprediksi namun tanpa ada pengaruh dari waktu yang termateri, karena segalanya selalu bersumber dari Allah yang tak dapat terselami oleh manusia.
Penantian telah tiba dengan waktu yang baru. Menghadapi perkaranya sendiri tanpa bersandar pada yang materi. Hanya Allah yang menjadi sumber keabadian dengan menjanjikan segala sesuatu indah pada waktunya.
Selamat menghadapi tahun 2008 dengan perkaranya sendiri.
Senjakala Waktu
www.sekinah07.blogspot.com, Jumat, 31 Oktober 2008“Benarkah yang Miskin itu Menderita?”
www.sekinah07.blogspot.com, Selasa, 30 September 2008
“Benarkah yang Miskin itu Menderita?” Suatu Refleksi tentang Persepsi menurut Merleau-Ponty
Oleh:
Andreo F. Rajagukguk
“Benarkah yang miskin itu menderita?” Hal yang tersembunyi dibalik sebuah tingkah laku menyoal masalah sosial di dalam sebuah pertanyaan sosial pula, ialah: kedigdayaan subyek dalam memandang sebuah kenyataan yang ada. Pertanyaan yang tadinya menjelaskan kenyataan yang ada, justru menyulut sumbu ke subjek pelaku. Pertanyaan yang semakin menjauh dari tujuan dasarnya. Sebuah kedegilankah? Terlambat dengan sebuah waktu yang berjalan di dalam kenyataan itu sendiri, ketika subjek masih berasik ria berdiri di atas kursi yang memiliki pandangan luas di dalam melihat kenyataan. Memojokkan subjek atas segalanya, tanpa mengusik sedikitpun mengenai objek di dalam kenyataan itu sendiri. Itulah Maurice Merleau-Ponty ketika mengkritik pandangan mengenai empirisme.
Ponty lahir pada tanggal 14 Maret 1908. Ponty termasuk di dalam jajaran filsuf besar Prancis. Segala karyanya terpengaruhi oleh 2 istilah yang berkembang di barat pada waktu itu, yaitu empirisme dan intelektualisme. Tidak terlalu jelas apakah Ponty sendiri punya pengalaman pribadi yang buruk mengenai situasi yang berkembang pada waktu itu. Namun yang jelas, ia melihat suatu pola sikap kehidupan masyarakat yang cenderung kepada pemikiran yang rasionalis, (Cartesian Rationalist) segalanya dilihat dengan maksud dan tujuan. Suatu pola kehidupan masyarakat yang bersumber dari 2 hal pemikiran tersebut.
Empirisme; “Saya melihat orang Miskin itu?”
Apa yang terjadi pada abad ke-17 adalah buah kekuasaan dan kejayaan empirisme. Pola tingkah laku masyarakat yang kemudian digambarkan para filsuf pada abad tersebut nantinya menjadi paradoks dengan Ponty. Sedikit menghargai karya dari filsuf-filsuf besar di dalam memberikan masukan kepada kekurangan empirisme, Ponty justru tidak melihat kemungkinan perpaduan antara Subjek dengan Dunia. Berawal dari empirisme yang memandang pengetahuan berasal dari empiri (pengalaman), dan akal menjadi pengolah bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman itu, Kant dan Descartes (Cartesian) hanya menjebatani keterpisahan antara subjek dengan objek, self dengan world, dengan tanpa memandang hubungan objek dengan tindakan. Kant, misalnya, hanya merepresentasikan pada kesadaran diri, keadaan yang ada sebagai kondisi diri, dan relasi tindakan sebelumnya dijadikan dasar di dalam keterhubungannya selanjutnya. Sedangkan Descartes dengan cogitonya terlalu cepat menyimpulkan aspek dualisme di dalam diri, mental dan fisik.
“Saya melihat orang miskin itu?,” adalah upaya di dalam interaksi antara subjek dengan objek. Subjek dipandang hanya sebagai penonton yang menonton dari atas untuk memandang objek, sedangkan relasi antara subjek dengan objek hanya berdasarkan dari pengalaman subjek. Subjek tidak mungkin dapat memahami apapun yang ada kecuali jikalau mempunyai pengalaman. Dari titik inilah kemudian Ponty mengkritik empirisme yang kurang mendukung kekuatan subjek. Subjek tidak dapat melihat apa yang dibutuhkan untuk mengetahui apa yang di cari.
“Saya melihat orang miskin itu?”, harus mencari sebuah pengalaman untuk dapat berelasi dengan yang miskin. Suatu kelemahan yang meremehkan subjek dan juga melemahkan objek (baca: kosmos) ketika nantinya tidak dianggap sebagai yang ada; karena yang ada hanyalah bendawi yang tidak tergantung pada gagasan subjek. Buah akan harapan dari empirisme adalah materialisme yang justru melemahkan rasa sensitf akan subjek di dalam memandang objek. Kaitannya yang nantinya berkurang di dalam refleksi analisis subjek. Segala realitas hanya berada di dalam keterkaitan dengan objek, sedangkan di luar dari keterkaitan itu bukan di dalam gagasan subjek. Mungkin bagi orang-orang miskin, objektifitas di dalam bentuk bendawi masih di genggam empirisme, namun situasi yang membentuknya sangat absurd berada di dalamnya. Suatu kelemahan empirisme yang sampai sekarang masih dipertanyakan di dalam membentuk kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Persepsi
Apa yang membuat terkenal dari karya Ponty adalah kritiknya mengenai empirisme. Banyaknya kelemahan yang ia lihat di dalam empirisme, khususnya mengenai subjektifitas, membuatnya berusaha membuat pemahaman ulang mengenai subjek. Pemahaman kembali yang harus bermula dari awal lagi, yaitu pemahaman mengenai ontologi tentang being. Bermula dari fisik dan metafisik yang saling berkaitan, kemudian Ponty memberikan pemahaman baru mengenai subjek, berbeda dengan pemahaman dari empirisme, bahwa subjek bukan hanya terkait akan pengalaman yang membentuknya, tetapi juga sikap, situasi dan suasana akan objek (cosmos). Kesemuanya ini adalah bagian-bagian dari yang Ada. Makna subjek dan objek dibahasakan ke dalam yang pengada sebagai individual. Pembahasan dari Ponty sangat jelas mengenai keterhubungannya di setiap individu atau inter-individual. Setiap individu kemudian merepresentasikan suasana atau situasi yang Ada menjadi kesatuan objek, namun kesatuan objek itu dibedakan dengan subjek pikiran, karena yang subjek tercemar di dalam kesamaran objek.
“Yang Miskin” adalah suatu objek dari berbagai individu, namun di dalam individual yang miskin belum tentu dapat merepresentasikan setiap kesubjektifan tersebut. Kesamaran akan wujud penggeneralisasian di dalam suasana atau situasi akan berwujud pula nantinya di dalam sikap. Artinya, ada kemungkinan yang Ada itu adalah bukan bagian dari anggapan, namun tetaplah objek; dan juga yang Ada bagian dari anggapan. Yang Ada terus tersingkap di dalam kesamaran, dan menurut Ponty, persepsi berperan dalam hal ini.
Baginya, persepsi membuat subjek tidak hanya menjadi penonton belaka, melainkan terus berperan aktif di dalam menganalisis objek, yang juga kumpulan dari persepsi. Persepsi harus melihat keseluruhan di dalam situasi yang membentuk Ada, yang nantinya turut di dalam mengungkapkan ketersingkapan tersebut.
Kesalahan selama ini, persepsi selalu ditanggapi dengan “konsekuensi tanpa premis”; dalam arti intelektual yang berperan terlalu cepat atau salah di dalam penegasian akan sesuatu hal, sehingga salah pula nantinya di dalam pengafirmasian/penegasannya.
I am My Body
Bagi Ponty penjelasannya mengenai persepsi berdasar akan dualisme ontologi, yakni transeden dan imanen, mind dan body (tubuh). Mind tidak dapat dipisahkan dengan body. Keduanya saling terkait di dalam membentuk subjek (baca: kesadaran). Mind mencakup kepada intelektual, sensasi, ingatan, dan pengalaman. Sedangkan tubuh adalah bentuk inkarnasi dari mind. Bentuk keselarasan ini kemudian ia nyatakan dengan ‘I am My Body.’ Tidak itu saja. Mind bukan hanya dimengerti sebagai fungsi mewujudkan atau merangsang body di dalam tindakan atau gerak, tetapi juga turut serta menerima masukan akan situasi yang juga membentuk mind akhirnya, dan rangsangan dari “luar” tersebut di terima melalui body.
Penjelasannya mengenai ‘I am My body’ lebih mengkhususkan body sebagai organ manusia di dalam keberadaannya. Sifat body yang di dalam keselarasannya dengan Mind lebih meluaskan pandangan mengenai tubuh manusia yang bukan hanya sekedar sebagai objek atau material belaka, melainkan sebagai perasa yang merasakan setiap rangsangan dari dunia, khususnya situasi di dalam keberadaan diri. “Our own body is in the world as the heart is in the organism,” begitu Ponty mengungkapkan keberadaan body. Dengan mind, body dapat sebagai perasa dan berpikir. Apa yang dibicarakan Ponty di sini adalah buah dari keseluruhan subjek sebagai keseluruhan objek. “I am My Body” lebih mengkhususkan kepada pembentukan body-subject, para subjek dengan keselarasan antara body dan mind.
Dengan dasar akan ontologi ini maka persepsi tidak hanya berdiam akan segala rangsangan, melainkan turut aktif dan kreatif mengobservasi segala hal, bahkan sebelum rangsangan tersebut muncul; yang juga bersifat rangsangan walaupun bersifat bendawi yang dianggap oleh empirisme sangat absurd di dalam gagasan subjek. Dengan keselarasan mind dan body, bentuk-bentuk tindakan body-subjek yang tidak dapat dipisahkan dari perasaan body-subjek, maka wujud nyata akan persepsi berada di dalam keselarasan ini pula. sehingga persepsi berada di dalam perwujudan di dalam suatu bahasa, yaitu gerak.
“Benarkah yang Miskin itu Menderita?” Sebagai Suatu Sikap Solidaritas
Bentuk nyata yang disalahkan Ponty dalam empirisme adalah: pertama kurang menghargai yang bersifat bendawi di dalam wujud pengaruh akan yang Ada. Kedua, di dalam cakupan kehidupan sosial, empirisme tidak memandang objek sebagai sesuatu yang aktif. Kritiknya terhadap empirisme merupakan bentuk wujud nyata dari pemikiran Ponty akan bentuk solidaritas di dalam kehidupan sosial.
Pertama, ia berusaha mengandalkan keterbukaan subjek sebagai sesuatu kekuatan di dalam setiap pandangan individu. Yang objek adalah kesamaran bagi subjek, sehingga melalui persepsi subjek terus berada atau juga dapat berada di dalam objek. Objek sendiri sebagai kumpulan subjek tidak hanya berdiam menunggu keaktifan subjek, melainkan turut aktif di dalam membongkar kesamaran tersebut.
Kedua, saling menjalin hubungan dengan subjek-subjek lain. Keselarasan mind dan body menjadi wujud di dalam setiap subjek menjalin hubungan dengan subjek-subjek lainnya. Yang miskin bukan dipandang sebagai objek, melainkan subjek-subjek menderita yang berbicara di dalam penderitaannya dengan bahasa gerak tubuh.
Solidaritas tidak memandang sebuah objek, melainkan relasi di antara subjek-subjek. “Benarkah yang miskin itu menderita?” harus dijadikan sebagai suatu persepsi awal di dalam menjalin hubungan antar-subjek, karena yang dianggap sebagai objek adalah juga rangsangan kepada subjek nantinya. Yang miskin juga sebagai subjek yang terus mencari pertolongan dengan kebutuhannya; dan persepsi adalah awal yang menjadi wujud nyata tindakan di dalam bentuk solidaritas, karena bentuk suatu solidaritas adalah bentuk rangsangan yang dapat di rasa dan dipikirkan.
Jadi mereka yang masih berteriak karena kelaparan, mereka yang mengungsi karena lumpur panas atau bencana alam adalah suatu bahasa dari mekanisme di dalam diri manusia (body) yang sangat membutuhkan pertolongan dalam bentuk kegelisahan yang tidak layak mereka terima selama ini di dalam kekeliruan persepsi.
Spiritual Masa Kini
www.sekinah07.blogspot.com, Minggu, 28 September 2008Hal yang mendasar akan suatu tindakan di dalam lingkup masyarakat adalah suatu pemahaman yang mencakup arti dan makna di dalam diri manusia. Tindakan adalah sebuah ketergantungan, yang tidak berdiri sendiri. Ia ber-“wujud nyata” ketika muncul dari sebuah gagasan, pemahaman, atau ide. Namun ia bukanlah yang awal, maupun yang akhir. Ia terus berelasi dengan pemahaman, bahkan turut membentuk suatu pemahaman itu sendiri, karena tindakan adalah suatu dasar dari sifat manusia dalam berelasi dengan masyarakat. Yang pastinya, tindakan hanya menjadi suatu ukuran yang jelas akan sebuah pemahaman di dalam diri manusia. Atau dengan kata lain, kita tidak mungkin tahu apa yang ada di dalam pemahaman seseorang jika tidak melihat sebuah perilaku atau tindakannya. Kesinambungan akan dua gejala tersebut adalah sebuah bentuk spiritual yang terlihat di dalam diri manusia.
Di dalam spiritualitas, berasal dari kata spirit, pembagian antara pemahaman dengan tindakan adalah sebatas sebagai suatu penjelasan. Tidak lebih. Arti yang melingkupi keduanya itu tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Bermula dari spirit (geist) yang melihat satu kesatuan di dalam diri manusia yang tersimpan suatu bentuk mekanisme diri dari manusia pula. Dengan kesimpulan adalah hukum sebab-akibat yang menjadi suatu konsekuensi yang harus ditanggung di dalam diri manusia. Ketika spiritualitas dimengerti sebagai hubungan pribadi manusia dengan Tuhan, maka pemaknaan ataupun pengertian akan Tuhan adalah, tentunya sebuah konsekuensi pula, bentuk pendagingan yang penjelasannya bukan hanya menyangkut kepada suatu panggilan, melainkan juga suatu bentuk pelayanan di dalam diri manusia. Keduanya ini, panggilan dan pelayanan, adalah keseluruhan dan kesatuan di dalam diri manusia yang penjelasannya lebih kepada interpretasi keadaan situasi yang mencakup aspek bahasa.
Di sini saya akan berusaha memilah dan menjelaskan mengenai arti antara panggilan dan pelayanan, lagi-lagi bukan bentuk pemisahan, walaupun nantinya akan terkait satu sama lain.
Mengenal Tuhan sebagai bentuk Panggilan
Di dalam spiritualitas, panggilan lebih condong terlihat kepada komunikasi antara Tuhan dengan manusia. Istilah panggilan sendiri dibatasi istilah pemakaiannya hanya ke dalam suatu titik peristiwa, yaitu ketika Tuhan memanggil manusia, bukan sampai kepada aspek tindakan. Istilah dasar dari panggilan, kata dasar panggil, terdapat (memiliki) konsekuensi kata, yakni memanggil dan terpanggil. Dalam hal ini yang memanggil adalah Tuhan dan yang terpanggil adalah manusia. Istilah panggilan berarti berada di dalam kaitan antara memanggil dan terpanggil, yang adalah bentuk dari suatu fungsi ataupun tujuan dari subjek, dalam hal ini Tuhan. Suatu bentuk yang terkait nantinya dengan arti dari pelayanan, karena panggilan merupakan titik tolak menuju kepada pelayanan. Tidak itu saja. Panggilan juga terkait akan bentuk kebendaan, yaitu identitas dari yang dipanggil. Yang memanggil merasa memiliki (mengetahui) yang dipanggil. Kedua gejala ini sangat telihat jelas di dalam Perjanjian Lama, di mana Allah memanggil umat-Nya, misalnya panggilan Abraham (Kej. 12), panggilan Musa (kel. 3), dll., dengan langsung memberikan beberapa fungsi, walaupun dengan perbedaan peristiwa di dalam panggilan tersebut. Proses pemilihan dan penunjukkan bangsa Israel sebagai milik Allah juga terlihat di dalam keterkaitan ini. (Yes 43:1)
Di dalam Peranjian Baru, zaman Yesus, arti dari panggilan berarti menggambarkan pengikut Yesus. Terjadi ikatan antara pengikut dengan Yesus sendiri, yaitu ikatan bukan hanya percaya kepada-Nya, melainkan menaati segala perintah-Nya. (Mrk 3:35). Kaidahnya menjadikan keduanya, percaya dan taat, memiliki peran yang penting di dalam panggilan tersebut, sehingga Yesus yang memanggil pengikutnya bukanlah otoritas mutlak antara yang memanggil dengan yang dipanggil, melainkan juga kerelaan yang dipanggil di dalam menempatkan Yesus di dalam dirinya. (Yoh. 6:56)
Pada masa kini, arti dari sebuah panggilan menjadi tidak masuk akal ketika membandingkan arti dari panggilan di PL dan PB dengan alasan tidak adanya premis awal di dalam sebuah logika berpikir. Atau dengan kata lain, di dalam istilah panggilan, yang memanggil tidak memiliki wujud ketika dibenturkan dengan akal. Namun di dalam PL dan PB terdapat pergeseran paradigma mengenai istilah panggilan. Pergeseran tersebut adalah mengenai otoritas dari yang memanggil; dalam arti otoritas tersebut lebih cenderung melunak dan tidak menitik beratkan pada satu aspek pelaku saja, yaitu yang memanggil, melainkan kepada yang dipanggil sebagai pelaku yang juga turut aktif di dalamnya, dengan anugerah yang telah diberikan dari-Nya kepada kita, yaitu berupa kasihnya melalui Yesus Kristus.
…. kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita….. (2 Petrus 1:3)
Apa yang menjadi pemahaman panggilan kita pada masa kini adalah pengenalan kita akan Dia. Di sini sangat menarik melihat bagaimana pemahaman Petrus mengenai panggilan, dengan menekankan kepastian akan sebuah anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita, dan kemudian memberikan suatu refleksi bagi kita sebagai yang dipanggil, yaitu pengenalan akan Dia. Ada dua penggambaran dari pernyataan ini. Pertama, dapat menekankan kepada suatu janji Tuhan yaitu akan hidup yang saleh. Kedua, sebagai suatu pertanyaan bagi kita: Tuhan sudah pasti akan memanggil kita dengan memberikan anugerahnya, tetapi apakah kita merasa terpanggil?
‘Pengenalan kita akan Dia’ adalah bentuk keaktifan kita sebagai manusia di dalam memahami ajaran, perintah, dan juga Yesus Kristus sebagai pusat anugerah tersebut. Di ayat selanjutnya (ay. 5-6), ‘pengenalan kita akan Dia’ sebagai bentuk panggilan digambarkan sebagai menambahkan kepada iman kebajikan, kebajikan pengetahuan, pengetahuan penguasaan diri, penguasaan diri ketekunan, ketekunan kesalehan, kesalehan kasih akan saudara-saudara dan kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.
Dari gambaran-gambaran tersebut, terdapat 2 hal pokok yang harus dilakukan. Pertama, menyangkut persoalan diri, berupa: pengetahuan diri, penguasaan diri, dan ketekunan. Hubungan yang pertama ini lebih cenderung kepada aspek hubungan antara manusia dengan Tuhan. Kedua, menyangkut hubungan manusia dengan sesamanya, yaitu kasih akan saudara-saudara dan semua orang. Hal pokok kedua ini lebih melihat hubungan manusia dengan perintah dan ajaran-Nya dengan ketaatan di dalam menjalankan segala perintah-Nya, yaitu kasih kepada sesama. Yang kedua ini jelasnya lebih kepada bentuk pelayanan manusia dengan sesama yang nanti akan dibahas pada bentuk pelayanan.
Transenden dan Imanen
Di dalam bentuk ‘pengenalan kita akan Dia,’ aspek pertama melihat bagaimana kita memahami dan kemudian mengerti apa yang menjadi ajaran, perintah dan Yesus Kristus sebagai pusat anugerah. Artinya, di dalam pemahaman yang menyangkut pada tataran ide dan pengetahuan terdapat suatu pemahaman yang tidak hanya berbicara pada hubungan khusus manusia akan Tuhan (Transenden), melainkan juga pemahaman yang sifatnya praksis (Imanen). Pemahaman yang Transenden dan Imanen ini merupakan bentuk pergumulan manusia dengan Tuhan menuju keharmonisan di dalam roh dan pikiran. (Ef. 4: 23)
Gejala ini adalah bentuk dari pemahaman akan Tuhan sebagai bentuk spiritualitas. Tuhan yang kita kenal bukan hanya yang transenden atau Tuhan yang jauh berada di kerajaan surga dan tidak terjangkau, melainkan Tuhan yang berada di antara kita (Imanen) dan dapat dijangkau. (1 Yoh. 4:17; Gal. 2:20) Pengenalan kita akan Dia yang imanen berarti menunjukkan kemurahan Allah kepada manusia yang menghambakan dirinya berada diantara kita. (Flp. 2: 6-8). Allah ada di mana-mana dan berada di dalam semua. (Ef. 4:6) Bentuk ‘pengenalan akan Dia’ yang imanen adalah bentuk pemahaman dan pengertian kita yang mendaging. Artinya, pemahaman tersebut menjadi tidak sia-sia jika merealisasikannya kepada kita semua.
Pelayanan sebagai bentuk pengenalan kita akan Dia
Pelayanan adalah bentuk penggenapan akan panggilan. Panggilan menjadi sia-sia ketika tidak dilakukan bersama dengan pelayanan, karena kaidah di dalam pelayanan adalah mentaati segala perintah-perintahNya, segala pemahaman yang berada di dalam panggilan tersebut.
…Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintahNya…(1 Yoh 2:3)
Yohanes menggambarkan ‘pengenalan akan Dia’ sebagai proses mekanisme diri manusia yang terpanggil. Kita yang mengenal Allah (baca: orang Kristen) berarti ada ikatan antara manusia dengan Allah. Konsekuensi yang tidak dapat dipungkiri. Mengasihi Allah berarti mengasihi sesama. (1 Yoh. 4:21) Allah yang berada di dalam semua, menandakan Allah yang hadir di dalam diri setiap manusia yang tidak memandang segala aspek pemisahan: strata, budaya, kekayaan dll. Begitu juga dengan pelayanan yang tidak memandang segala aspek. Pelayanan harus menyentuh ke semua orang dan segala lapisan masyarakat.
Di dalam pelayanan, hal yang terpenting adalah menyangkut pengorbanan manusia kepada sesamanya. Bentuk ikatan ini berada di dalam bentuk dari penghambaan Yesus Kristus di dalam pengorbananNya. (Ef. 2: 5) Apa yang menjadi pelayanan manusia adalah menjadi seperti Kristus. Kerelaan berkorban yang terangkum di dalam gambaran akan Salib; yang bukan melihat kepada bentuk kongkrit, melainkan penderitaan karena terikat dengan Kristus. Orang Kristen, bukan hanya pendeta, harus menerima Salib dan siap memikul Salib-Nya.
Di dalam pelayanan, pengorbanan manusia di dalam salib adalah pengorbanan karena ikatan dengan Kristus, bukan pengorbanan yang karena sifat alami di dalam hidup. Artinya, kita yang mengenal Allah berarti kita yang melayani dengan mengorbankan dirinya kepada orang lain dengan ikatan Kristus.
Penutup
Kita yang berspiritual adalah kita yang mengenal Dia dan kita yang mengejawantahkan pengenalan itu di dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita yang berspiritual adalah kita yang harus melayani dengan mengorbankan diri kita kepada orang lain.
Segala pengorbanan kita kepada orang-orang tertindas, orang-orang miskin, orang-orang yang terkena bencana, sangat berarti bagi mereka di dalam kehidupannya. Dan bagi kita sendiri segala pengorbanan kita kepada mereka yang membutuhkan adalah juga demi ikatan kita dengan Kristus.
Untuk itu, mari berspiritual! Read More..

